Rektor dan Mahasiswa Saling Menunggu

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

“Mengenai sanksi kasus plagiat, sampai saat ini (red: 13/12) masih di konsultasikan dengan kopertis. Sekalian menunggu sikap dari mahasiswa karena sampai saat ini belum ada sikap resmi dari mahasiswa.” Demikian isi dari pesan singkat Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Ki Drs. H. Pardimin, M.Pd. yang juga selaku ketua senat akademik UST setelah ditanyai oleh Pendapa.

Turut menambahkan apa yang disampaikan rekrot UST, Ki Drs. Hazairin Eko Prasetyo, M.S. selaku sekretaris senat akademik lewat pesan singkatnya kepada Pendapa mengatakan, saat ini masih dalam proses pengambilan kebijakan.

Ditempat terpisah, Seferinus Salvin Soverdi yang sekarang menduduki kursi ketua Majlis Mahasiswa Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidik (MMFKIP) UST menyatakan “setelah ada pertemuan dua minggu yang lalu antara sekretaris senat, wakil rektor III dan perwakilan Mahasiswa yang diwakili oleh Majlis Mahasiswa Universitas dan Majlis Mahasiswa tiap Fakultas. Dengan agenda pembahasan mengenai plagiat yang dilakukan Tarto Sentono selaku dekan FKIP UST. Kami menyampaikan sikap dengan tegas pada pertemuan itu bahwa rektor segera bertindak tegas untuk memberikan sanksi “.

Jadi, lanjut Salvin, lembaga tidak bersikap diam. Melainkan mempercayakan kepada rektorat untuk segera menyelesaikan kasus ini. “Semacam rektor ingin menunggu surat dari kami (mahasiswa). Jangan salahkan mahasiswa. Kasus plagiat inikan sudah terbukti, ngapaian menunggu-nunggu lagi untuk memberikan sanksi,” ucap Salvin saat ditemui Pendapa di waktu senggangnya.

3 tanggapan untuk “Rektor dan Mahasiswa Saling Menunggu

  • 15 Desember 2011 pada 08:15
    Permalink

    Pak Rektor…….Kami menunggu tindakan tegas dari Anda….!
    Jadi segera putuskan sanksi untuk kasus ini.

    Balas
  • 16 Desember 2011 pada 11:20
    Permalink

    Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh.
    Orang tua kami pernah kuliah ekstensi S1 di UST, dari kecongkakan dan dzalim salah seorang guru/dosen UST pada mahasiswanya, 200an Ijasah yang diperoleh orang tua kami dan temen2nya tidak diakui/ berlaku untuk penyesuaian kepangkatan ataupun sertifikasi guru di daerah kami Jawa Barat regional III , padahal orangtua kami sudah mengeluarkan banyak biaya sampai-sampai menggadaikan tanah untuk biaya kuliahnya.
    Pada hari yang baik di tahun 2012 untuk memuaskan hati nurani atas kedzalimannya, orang tua kami beserta teman-temannya insya Allah akan mengadakan Upacara Ruwatan “pembakaran Ijasah” di depan media cetak dan elektronik nasional. Amin.
    Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarakatuh.
    Erny Lf

    Balas
  • 17 Desember 2011 pada 03:35
    Permalink

    Ujicoba Disqus.com comment plug in.Silakan coba!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *