Persatuan yang Dikikis

Syahnagra. Foto: Taofiq Tri Yudhanto/PENDAPA

Malam yang semakin larut kian menambah panas suasana. Itulah yang dirasakan oleh segerombolan orang yang sedang mengadakan sebuah pertemuan kecil ditengah berjalannya Kongres XX Persatuan Tamansiswa di dekat Pendopo Agung Tamansiswa. Kebanyakan mereka berasal dari alumnus Tamansiswa atau yang disebut Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTs), Kamis (8/12) malam.

Mereka antara lain; Syahnagra (Ketua Bidang Seni dan Kebudayaan PKBTs), Hazwan Iskandarjaya (Ketua Bidang Humas dan Media PKBTs), Wahyana Giri MC (Sastrawan), Nanang Rekto Wulanjaya (Cucu Ki Hadjar Dewantara), Teater Tema (Teater dari Taman Madya Ibu Pawiyatan), Mutia Sukma, Liek Suyanto (Pemain Film), Mien Brojo (Pegiat Studio Pertunjukan Sastra atau SPS) dan beberapa simpatisan lain.

Secara bergiliran mereka membaca puisi sesuai yang mereka bawa. Mulai dari Rendra, Charil Anwar, Koh Hwat, Sanusi Pane, MD Zawawi serta puisi dari beberapa sastrawan lain. Disamping itu juga ada beberapa dari mereka yang melakukan orasi yang berisi sindari akan pelaksanaan Kongres XX Persatuan Tamansiswa. “Mereka yang sedang mengikuti kongres adalah orang-orang yang tidak memerdulikan budaya. Kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari pendidikan. Jika dipisahkan non sense,” cetus Syahnagra dalam salah satu orasinya.

Terjerumus Kepicikan

Dalam Konggres XX Persatuan Tamansiswa ini tidak melibatkan para alumni Tamansiswa (PKBTs), Persatuan Pemuda Tamansiswa (PPTs) serta Wanita Tamansiswa (Wanitas). Menurut Syahnagra (Ketua Bidang Seni dan Budaya PKBTs), bahwa pasalnya mereka takut jika tersaingi didalamnya.

“Mereka takut. Sekolah itukan sedang membangun kerajaan. Jadi, mereka takut jika tersaingi di dalamnya,” papar Syahnagra ketika ditemui usai acara pembacaan puisi

Ki Hadjar sendiri, menurut Syahnagra, mengajarkan kepada kita untuk selalu bersatu dan bersama, karena jika kita bersama kita punya kekuatan, jadi gagasan-gagasan harus dimunculkan bersama.

“Namanya persatuan Tamansiswa, jadi, seharusnya harus memasukkan seluruh pilar yang ada di Tamansiswa untuk bersatu. Ketika pilar-pilar ini disatukan kan berarti juga satu. Nggak boleh ini dipisahkan. Kongres ini harus diperbaiki,” pungkasnya.

Disisi lain, Priyo Mustiko menjelaskan bahwa ada unsur kepicikan pada pemimpin kalangan Tamansiswa. “Pertama, idealnya yakni harus konsekuen, Tamansiswa kan bukan lembaga sekolah. Tamansiswa ini tidak hanya yayasan penyelenggara sekolah. Tapi tamansiwa ini adalah badan perjuangan masyarakat. Lha perjuangan kan mestinya menumbuhkan kejuangannya,” cetus Priyo Mustiko.

Priyo menambahkan, bahwa yang kedua, ajaran Tamansiswa banyak yang disalahartikan. Pendidikan dan kebudayaan bisa terlaksana secara komplit dan utuh apabila melewati alam keluarga dan juga sekolah alam. Ini menjadi pekerjaan besar bagi pengurus. Menurut para pendiri Tamansiswa, para alumnus dan simpatisan ini merupakan pagar hidup yang dinamis.

“Kalau Tamansiswa digambarkan dengan puisinya Sanusi Pane tadi (malam; red), sebagai kebun teratai yang indah, dan kita sebagai pagarnya. Pagar yang hidup bukan pagar yang makan tanaman. Pagar yang hidup itu adalah pagar yang memuliakan nilai-nilai yang ada di Tamansiswa itu. kita yang menjaganya. Itu saja belum dipercaya. Inikan menjadi keprihatinan kita,” pungkasnya.