Perkembangan Pendidikan Nasional Belum Selaras dengan Ajaran KHD

Ki Taufik Kiemas akan memukul gong tanda Kongres XX Persatuan Tamansiswa resmi dibuka. Foto A. Mustaqim

Sejak awal berdirinya pada tahun 1922, Perguruan Tamansiswa merupakan salah satu pelopor pendidikan bagi kaum nasionalis. Perguruan Tamansiswa secara nyata telah berhasil membangkitkan solidaritas kebangsaan dan mempercepat proses terjadinya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.

Demikian salah satu petikan sambutan Ki HM. Taufiq Kiemas (Ketua MPR RI) dalam acara pembukaan Kongres XX Persatuan Tamansiswa, di Pendopo Agung Tamansiswa, Rabu (7/9). Disamping memberikan sambutan, Taufiq Kiemas diberi mandat untuk memukul gong sebagai pertanda Kongres XX Persatuan Tamansiswa dimulai.

Sebelum Taufiq Kiemas membuka Kongres XX Persatuan Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto (Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa). Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwasannya perkembangan pendidikan nasional saat ini belum selaras dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara (KHD) selaku Bapak Pendidikan Nasional.

Selain Taufiq Kiemas dan Tyasno Sudarto, pembukaan Kongres XX Persatuan Tamansiswa juga dihadiri oleh Budi Santoso Suwignyo Sukarto (Saf Ahli Pendidikan DIY) mewakili Sri Sultan Hamengku Buwono X yang berhalangan hadir.

Usai acara pembukaan, peserta kongres langsung menuju Gedung Balai Persatuan Tamansiswa untuk memulai Kongres. Acara Kongres hari pertama berisi pembahasan tata tertib, pembentukan tim perumus pemimpin sidang serta pembentukan komisi-komisi.

Menurut agenda, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) akan mengisi acara, akan tetapi berhalangan hadir. Tetapi, Prof. Dr. Haryono Suyono (Ketua Yayasan Damandiri) hadir dan turut mengisi acara kongres. Dan yang terakhir sebelum istirahat acara dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban dari Pengurus Tamansiswa.