Hasil Rapat Senat: Dekan FKIP Terbukti Plagiat Diatas 90%

Dari kiri ke kanan: Ki Drs. Tarto Sentono, M. Pd., Ki Drs. H. Pardimin, M. Pd., Ki Drs. Hazairin Eko Prasetyo, M.S.,

Menindaklanjuti berita Pendapa sebelumnya tentang sidang akademik dalam pembahasan isu plagiat yang dilakukan oleh Ki Drs. Tarto Sentono, ST. M.Pd. selaku Dekan FKIP, akhirnya Pendapa dapat bertemu dengan sekretaris senat akademik Ki Drs. Hazairin Eko Prasetyo, M.S. di ruang kerjanya Senin (5/11) siang.

Hazairin Eko mengiyakan bahwa Rabu (30/11) lalu senat akademik telah mengadakan sidang. Sidang tersebut membahas hasil telaah akademik terhadap kasus plagiat yang dilakukan oleh Tarto Sentono. Hazairin Eko mengungkapkan bahwa pada saat rapat ada yang membenarkan bahwa Tarto Sentono memplagiat ada juga yang tidak membenarkan. “Disebabkan belum tercapai kata musyawarah maka kami melakukan pengambilan suara dengan voting dan disimpulkan bahwa rapat senat hari itu (red; Rabu, 30/11) menyepakati bahwa Tarto Sentono melakukan plagiat dengan persentase lebih dari 90%.” ungkapnya.

“Yang menjadi alasan bagi kami untuk menindaklanjuti kasus ini berdasarkan kepada Deklarasi Dikti mengenai gerakan anti plagiat dan mencontek pada tanggal 4 Mei 2011. Yang menyebutkan perbuatan mencontek dan plagiat merupakan perbuatan yang tidak bermartabat, juga berdasarkan Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No.17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat, maka kami menindak lanjuti kasus ini.” Jelas Hazairin Eko.

Hazairin Eko menambahkan, kasus ini berawal dari laporan mahasiswa pada bulan April 2011 tentang plagiat yang dilakukan oleh Dekan FKIP UST Tarto Sentono. Mahasiswa tersebut menunjukkan hasil laporan penelitian Tarto Sentono dengan judul ‘Pemahaman Membaca Lembar Kerja Terhadap Pencapaian Kemauan Kerja Mesin Perkakas dengan Kekhususan Teknik Bubut Siswa SMK Taman Karya Cabang Jetis Yogyakarta’ pada tahun 2002. Sedangkan naskah aslinya berjudul ‘Pengaruh Lembar Kerja Terhadap Pencapaian Kemampuan Teknik Bubut Siswa Mesin Produksi STM II Yogyakarta’ tahun 1994 yang merupakan hasil laporan penelitian Slamet Priyanto.

Saat ditanya mengenai identitas mahasiswa yang melaporkan kemungkinan plagiat pada laporan penelitian Dekan FKIP tersebut, Hazairin Eko hanya mengatakan tidak bisa disebutkan. “Kami menerima laporan itu dan kebetulan ada pergantian dan pemilihan rektor maka laporan itu belum kami tindaklanjuti, baru pada Juli kami menindaklanjutinya.” katanya.

Sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 17 Tahun 2010, cek and recek kedua laporan penelitian itu pun dilakukan. Menurut Hazairin Eko, keduanya disandingkan oleh Rektor UST. “Sampai pada bulan Oktober persandingan baru selesai. Hasil dari persandingan di simpulkan bahwa memang terbukti Tarto Sentono memplagiat laporan penelitian Slamet Priyanto, yang terbukti hampir absolut”  kata Hazairin Eko.

Hasil tersebut dilaporkan kepada senat akademik kemudian ketua senat meminta komisi akademik untuk menganalisis kembali. Analisis yang dilakukan oleh komisi akademik berakhir pada tanggal 21/11 dan telah mendapatkan hasilnya. Hasil yang disimpulkan sama seperti sebelumnya bahwa laporan penelitian yang disusun Tarto Sentono terbukti plagiat. Hazairin Eko mengungkapkan Senat merekomendasi rektor UST untuk memberikan sangsi kepada pelaku dengan nomor rekomendasi 1/REK/SU/XI/2011 tanggal 30 November 2011.

“Kami mengaharapkan rektor segera memberikan sangsi kepada pelaku plagiat, jika tidak cepat maka rektor pun akan diberikan sangsi.” tegas Hazairin Eko.

Saat dihubungi Pendapa melalui pesan singkat rektor UST Pardimin menjelaskan bahwa ia belum menjatuhkan sangsi kepada pelaku, disebabkan pada Sabtu 2/12 menghadiri wisuda dan Rabu 6/12 berangkat ke Jakarta. “Setelah pulang dari sana (red; Jakarta) saya baru koordinasi kembali untuk pengambilan keputusan”. pungkasnya.