Gemerlap Bintang (2-Habis)

Sambungan. Aku tak pernah berminat menjadi bintang. Tak pernah terbayangkan oleh ku akan masuk TV, apalagi jadi terkenal… Tapi setiap melihat wajah ceria keluarga yang kucintai, aku tak bisa menolak untuk ikut audisi itu.

Hari-hari telah berganti. Sepertinya semuanya berusaha keras agar lolos audisi ajang pencarian bakat itu. Mulai dari Ayah yang semakin rajin berolahraga dan Ibu yang jadi sering mencoba resep-resep baru, meskipun terkadang rasanya justru jadi aneh. Mas Anton setiap hari membuat suara berisik dengan gitar kesayangannya. Semua semakin tambah ramai ketika suara Mbk Mala yang lumayan enak didengar memenuhi ruang keluarga, mengalunkan lagu-lagu pop.

Akhirnya aku menyerah. Aku pun setuju untuk ikut audisi BKI di salah satu mal terkenal di kotaku. Aku berangkat ke sekolah dengan mendekap tas yang berat karena penuh dengan baju dan sepatu ganti. Saat berangkat ke sekolah aku teringat pesan Mbak Mala, kalau penampilanku nanti harus meyakinkan. Menurut Ibu dan Ayah, menguasai kesenian tradisional adalah nilai plus untuk dapat lolos audisi.

Akhirnya pelajaran terakhir selesai, waktunya pulang dan aku akan menyusul Ayah, Ibu, Mas Anton, dan Mbak Mala untuk audisi BKI. Macet. Saat aku berusaha menyelip mobil yang ada didepanku dari arah kiri, tiba-tiba dari belakang ada sepeda motor yang menyelipku. Aku terjatuh. Suara sepeda motor ku begitu keras terdengar. Seketika itu aku tersungkur ke aspal. Kepalaku terbentur jalan beraspal. Tetapi untunglah helm ini mampu melindungi kepalaku dari benturan itu.

Orang-orang mulai mengerumuniku. Sedetik kemudian semuanya terlihat gelap. Aku tak sadarkan diri. Beruntung orang yang menyerempetku mau bertanggung jawab dan membawaku ke Rumah Sakit terdekat. Setelah aku tersadar. Aku mendengar suara Ibu.
“Nak, kamu sudah siuman.” tanya Ibu pelan, berbisik di telingaku.
“Ibu? Ibu kok bisa disini?” aku justru balik bertanya.
“Iya tadi ada yang menelfon Ibu. Memberitahu kalau kamu terserempet sepeda motor. Mendengar kabar itu Ibu langsung cepat-cepat ke sini nak, syukurlah luka kamu tidak parah,” ucap Ibu.
“Bu, maafkan Bintang. Gara-gara Bintang kita sekeluarga jadi gak bisa ikut audisi…” ucapku sedih sekaligus menyesal.
“Gak apa-apa nak, ini bukan salahmu. Tapi memang sudah jalannya, lain kali hati-hati kalau berkendara di jalan besar. Melihat kamu sehat saja Ibu sudah sangat senang dan bersyukur nak,” ungkap Ibu kepada ku sembari tersenyum lega.
“Iya bu, makasih banyak Ibuku yang paling cantik dan baik hati, hehe…” pujiku pada Ibu.
“Kamu tahu kenapa Ibu dan Ayah memberi nama Bintang?” tanya Ibu padaku.
“Gak tahu, Bu … memang apa bu artinya?” tanyaku penasaran.
“Supaya kelak kamu jadi bintang, paling terang, paling gemerlap.” jelas Ibu padaku.
“Hehe… sudah terlalu banyak bintang, Bu. Kalau bertambah satu lagi, nanti jadi silau,” candaku pada Ibu.

Saat itu aku tersadar, ibu dan ayah sangat sayang pada ku. Melalui kecelakaan ini dan gagalnya kami sekeluarga untuk mengikuti audisi itu, aku semakin tahu bahwa mereka menyayangiku melebihi apapun. Terima kasih Tuhan engkau telah menunjukkan ini semua. Menunjukkan betapa indahnya Bintang itu.