Kronologis Pengeroyokan Aktivis Persma di UST Yogyakarta

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

21 September 2011. Pada pukul 15.20 WIB, kami membagikan Buletin PEDAPA News edisi khusus ospek ke-2 kepada mahasiswa baru UST yang sedang melakasanakan ospek. Sebelum pembagian buletin, kami meminta izin terlebih dahulu kepada panitia dan panitiapun mengizinkan kami untuk membagikannya.

Sepulang dari tempat Ospek di Wana Bhakti Yasa dan menyebarkan buletin ke mahasiswa baru, sekitar pukul 15.30 WIB, tiga anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pendapa yaitu Syarifatur Rahma, Wulandari S, dan Desi Sri R mendapat teror dari seseorang dalam bentuk telepon.

Pertama kali Rahma ditelepon dengan nomor pribadi (private number) dan mengatakan “Heh asu, hati-hati kamu”, sekitar pukul 15.50 WIB waktu HP Rahma (waktu hp Rahma lebih cepat 8 menit dari teman yang lain). Tak berapa lama Wulandari S yang mendapat telepon dari Andrio, pukul 15.42 WIB waktu yang tertera pada HP Wulan dan intinya Andrio berkata “Apa kamu, anjing ya kalian. Eh, kita itu lagi mengadakan ospek, kalian itu gak tau apa-apa. Siapa yang mengizinkan untuk menyebar buletin yang memprovokasi panitia dengan maba. Hati-hati ya kalian. Hancur ntar Pendapa”. Wulan pun menjawab “Kalian punya hak untuk menjalankan tugas kalian sebagai panitia Ospek dan kami di sini juga punya hak untuk menjalankan tugas kami. Lha, kalian sudah membaca buletinnya belum? Sumonggo wae lah!” Selanjutnya Desi juga mendapat telepon dari private number pada pukul 15.49 WIB dan berkata “Hei asu, hati-hati ya di jalan”.

Mendapat ancaman seperti itu kami (LPM Pendapa) mengambil inisiatif untuk meminta perlindungan kepada Wakil Rektor 3 UST melalui SMS. Selain itu, kami juga mencoba menghubungi ketua Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Yogyakarta untuk mendampingi kami. Selang beberapa menit, kami mendapat SMS dari Warek 3 untuk membicarakan hal “terror” tersebut di Fakultas Teknik ruang 206 besama dengan panitia ospek pada pukul 17.30 WIB.

Sebelas anggota Pendapa yaitu Wahyu, Sigit, Wulandari S, Rahma, Supriyanti, Ana K.W, Wulandari, Desi dan Lala tiba di Fakultas Teknik memasuki ruang 206 dan warek 3 mempersilakan dari kami yang beragama Islam untuk menjalankan ibadah shalat magrib karena pada saat itu bertepatan dengan adzan magrib. sedangkan Eko Budiono dan kawan PPMI menyusul ke Fakultas Teknik. Selesai menjalankan ibadah, sembilan anggota Pendapa kembali memasuki ruangan 206 di Fakultas Teknik UST yaitu Wahyu, Sigit, Wulandari S, Rahma, Supriyanti, Ana K.W, Wulandari, Desi dan Lala. Sedangkan dua anggota kami belum memasuki ruangan yaitu Mustaqim dan Seno.

Mustaqim, Seno, Eko Budiono, dan kawan PPMI mengobrol di lobi hall lantai dua kampus pusat. Tidak berapa lama setelah itu terdengar kawan-kawan panitia Ospek datang. Kami yang berada di dalam ruangan mendengar ada beberapa orang yang ribut-ribut dan teriak.

Di waktu yang sama dan di luar ruangan, anggota Pendapa Seno, Eko Budiono, Mustakim dan anggota PPMI, Ayu, Randi, dan Rohmadi  sedang ngobrol. Tak berapa lama panitia ospek datang dan bertanya dengan nada tinggi “Kamu Desi?” kata Andrio. Pertanyaan tersebut di tujukan pada Ayu PPMI dan dia menjawab bukan, mereka lalu bilang lagi ”Dimana Desi?” tepat di hadapan Randi PPMI dan Mustakim menjawab “Tidak tahu”, Setelah itu Rahadi, Ketua Panitia Ospek, menunjukkan buletin Pendapa khusus ospek edisi ke-2 yang sudah robek di depan Mustakim. Beberapa panitia ospek menunjuk muka Randi dengan telunjuk dan Randi mencoba menepis tangan tersebut. Randi saat itu sedikit kaget dan bilang, “Ngomongnya pelan-pelan aja mas, paham media tidak?” tanpa ba bi bu panitia langsung menyerang Randi. Setelah terjadi aksi pengeroyokan, tepatnya pukul 18.22 WIB kami (anggota LPM Pendapa) yang berada di dalam ruangan mendengar ada suara pecahan kaca.

Mustakim yang ada di samping Randi berusaha ikut melindungi Randi. Walaupun ada beberapa panitia yang mencoba mencegahnya. Akhirnya Warek III melerai pengeroyokan tersebut. Namun Mustakim juga kena pukul dari panitia. Sedangkan Eko Budiono melindungi dan sedikit kena pukul, setelah itu Andrio memegang dagu Eko dan mengancam. Sebelum menuju ruangan, Eko juga sempat mendapat tendangan yang dilakukan salah seorang panitia dan Eko tidak mengetahui namanya.

Seno ditarik seorang panitia bernama Arko disusul beberapa orang ikut mendatangi Seno, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan namun Seno tidak tahu nama mereka. Seno ditarik, dan dipojokkan di antara meja dan tembok sambil kerah baju Seno ditarik sambil diancam, “Kamu jangan macam-macam.” Setelah itu, Seno hendak dipukul dan mereka menyuruhnya untuk pulang. Akhirnya Seno pun pergi meninggalkan kampus dan tempat kejadian perkara.

Selang beberapa menit kemudian kami melihat teman kami Mustaqim, Eko, dan Randi dari PPMI dimasukkan dalam salah satu ruangan sebelah timur ruangan yang kami gunakan untuk mediasi. Saat perjalanan menuju ruangan, Mustakim melihat ada seseorang yang sempat memukul kepala Randi dari belakang. Indria, Salfin, dan Rahadi serta Warek III ikut ke dalam ruangan tersebut. Namun pada saat itu kami tidak mengetahui keberadaan salah satu anggota kami yang ada di luar.

Selang beberapa waktu ketika suasana sudah aman, Randi diminta untuk meninggalkan kampus oleh Warek III. Di depan pintu keluar ruangan itu, Randi kembali diserang oleh seorang panitia. Serangan berhasil dihalau oleh Warek III, dan Randi diperintahkan lari oleh Warek III. Namun panitia yang lain turut serta menghalau Randi di dekat tangga turun, Randi merasa bingung dan memutuskan menyelamatkan diri di ruangan yang tadi. Tapi naas, Randi kembali memerima pengeroyokan oleh panitia ospek di salah satu lorong ruangan Randi mendapat pukulan hingga mimisan dan luka di bagian pelipis. Kepala belakang Randi pun mengalami luka hingga mengeluarkan darah. Lalu Randi masuk kembali dan diminta membuat surat pernyataan untuk tidak melanjutkan kasus tersebut pada saat itu juga dalam kondisi tertekan.

Beberapa saat setelah itu kami berbincang-bincang dengan salah satu panitia Ospek yang saat itu juga masih menjadi anggota Pendapa. Menceritakan permasalahan dan klarifikasi mengenai karikartun di Buletin Khusus Ospek Edisi Ke-2 Pendapa secara kekeluargaan. Setelah itu Warek 3 memasuki ruangan dan menyatakan permasalahan sudah selesai.

Rektor meminta untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Akhirnya terjadi pertemuan Rektor dengan panitia ospek yang dilaksanakan tanggal 22 September 2011 pukul 08.00 WIB di Rektorat. Sedangkan pertemuan rektor dengan Pendapa terjadi pukul 15.00 WIB. Dari pertemuan tersebut disepakati akan ada mediasi untuk mempertemukan kedua belah pihak dan rektor sebagai penengahnya.

Beberapa anggota Pendapa dan panitia Ospek melaksanakan mediasi yang dilakukan bersama Rektor, Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, dan Kepala Keamanan UST  di ruang sidang Fakultas Psikologi UST. Dalam mediasi tersebut anggota Pendapa mendapatkan kesempatan untuk menceritakan kronologis versi anggota Pendapa.  Akan tetapi tanggapan-tanggapan terhadap kronologi yang disampaikan, lebih pada redaksional kronologi dari Pendapa, dan pengusutan tidak dilakukan dengan jelas mengenai kasus teror yang ingin dimediasikan sejak awal beserta pengeroyokan yang terjadi pada mediasi pertama. Diakhir mediasi ke-2 tersebut, Rektor memberikan pernyataan kepada Panitia Ospek, bahwa tindakan pengeroyokan adalah tindakan tidak benar dan tidak boleh terulang lagi. Sedangkan kepada Pendapa, rektor menyarankan, jika membuat berita, sebaiknya melakukan cek dan ricek agar proporsional.

 

Unduh sebagai Dokumen

2 tanggapan untuk “Kronologis Pengeroyokan Aktivis Persma di UST Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *