Proklamasi Bukan Tujuan Akhir

Terik mentari sore seolah tak terasa seiring eratnya kebersamaan. Hal itu terlihat ketika para peserta sepeda bersama yang diadakan perguruan Tamansiswa, begitu semangat meski menjalani puasa ramadhan, bagi yang muslim, Rabu (17/8).

Acara tersebut diikuti perwakilan hampir semua perguruan Tamansiswa di Yogyakarta. dari Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT), Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Majelis Mahasiswa UST, SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan, SMK Taman Karya Jetis. Turut hadir pula cucu Ki Hadjar Dewantara (KHD), Nanang Rekto Wulanjaya. Selain itu juga diikuti peserta dari Posdaya bimbingan UST (Tahunan, Sinduadi, dan Gowongan).

Selain dari Perguruan Tamansiswa, turut mengundang komunitas sepeda onthel. Mereka adalah Komunitas sepeda Onthel Jogja, Komunitas Sego Segawe, dan JEB Kota Gedhe. “Acara ini bertujuan memeringati napak tilas KHD untuk menyiarkan proklamasi” ungkap…

Perjalanan dimulai dari Pendopo Agung Tamansiswa melewati SPBU Sultan Agung, menuju Jembatan Sayidan, Jalan Brigjend Katamso, Jalan Kolonel Sugiyono, Dan finish di Pendopo Agung Tamansiswa.

Sebelum acara tersebut, pada pagi hari juga diadakan Upacara Bendera yang diikuti perwakilan dari setiap Perguruan Tamansiswa Kota Yogyakarta. Turut hadir pula Prof. Wuryadi, Ki Priyo Dwi Arso (Panitera Umum MLPT), dan Pimpinan Wanita Tamansiswa.

Ki Subronto sebagai pembina upacara menuturkan bahwa proklamasi bukan tujuan akhir, akan tetapi menjadi tanggung jawab berat bagi generasi penerus. Selain itu, Indonesia kini belum sepenuhnya merdeka. Karena, segala aspek kehidupan kini telah dimasuki kapitalisme dan imperialism. Contoh, Perguruan Tinggi Negeri seharusnya menjadi perguruan untuk rakyat akan tetapi malah menjadikan pendidikan lebih tidak terjangkau.