‘Pacu Adrenalin’ Dengan Menulis

Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.” [Stephen King]

Menulis selalu berkaitan dengan merangkai sebuah huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat. Dari gabungan beberapa kalimat kita peroleh sebuah paragraf. Dan gabungan paragraf-paragraf ini kita ciptakan suatu tulisan, baik berupa puisi, cerpen, dan informasi- informasi yang penting untuk orang lain.

Bagi sebagian orang, menulis dianggap membosankan. Membuang waktu hanya untuk sebuah tulisan yang belum tentu dibaca, disukai atau dinikmati orang lain. Sebenarnya tidak ada larangan berpendapat seperti itu, karena setiap orang mempunyai kepentingan dan keinginan yang berbeda dengan menulis. Ada anggapan menulis itu tidak penting, meski hanya meluangkan sedikit waktu untuk sekadar merenungkan apa arti tulisan dan mengapa orang mau menulis bahkan bisa menulis.

Namun disisi lain, dengan menulis kita bisa memperoleh manfaat baik untuk kepuasan diri sendiri maupun orang lain. Manfaat menulis akan dirasakan ketika kita menikmati kegiatan tersebut. Ada kepuasan batin tersendiri dan tak jarang pula memberikan pengaruh bagi pola hidup sang penulis. Menulis memang mengasyikkan dan membutuhkan waktu yang terkadang  tidak sedikit untuk menghasilkan sebuah karya. Bisa berjam-jam, berhari- hari, bahkan berbulan- bulan. Tak jarang pula bahkan sampai bertahun- tahun untuk menulis sebuah karya ilmiah yang membutuhkan suatu penelitian.

Berawal dari proses itu akan terasa berharga ketika hasilnya diapresiasi dan memberi banyak manfaat. Sebuah kepuasan yang tidak terbeli dengan nilai material. Kepuasan batin ini akan memberikan pengaruh positif terhadap kondisi mental si penulis. Misalnya, bisa memotivasi kreatifitas dan rasa percaya dirinya untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik.

Dengan menulis kita bisa menyalurkan aspirasi tentunya untuk hal-hal yang baik, bukan untuk menjelek-jelekkan orang lain.  Meski terkadang susah untuk menemukan ide atau inspirasi untuk ditulis. Selain itu, menulis dapat menjadi tempat menyalurkan perasaan dan pendapat yang apabila disimpan bisa berdampak negatif bagi tubuh dan pikiran secara fisik dan mental. Sebagaimana diungkapkan James Pennebaker, Ph.D dan Janet Seager, Ph.D dalam jurnal Clinical Psychology bahwa orang yang memiliki kebiasaan menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat dari mereka yang tidak punya kebiasaan tersebut. Pikiran yang sehat tentunya akan memberi kekuatan positif pada tubuh kita. Dengan memahami ini, maka menulis bisa menjadi kekuatan dan sebuah tulisan bisa menjadi kekuatan bagi penulis bahkan pembacanya.

Banyak lagi tulisan-tulisan yang berkekuatan, seolah-olah memiliki daya magic yang bahkan bisa mengubah pola pikir pembacanya. Menulis juga merupakan media mengajar dan mendidik. Tulisan yang di sampaikan bisa berupa berita atau bacaan lain yang mudah untuk dipahami dan dimengerti dengan baik oleh pembaca. Disamping itu menulis juga merupakan salah satu cara untuk memengaruhi opini orang lain. Pengemasannya pun bisa dalam bentuk media cetak (buku, majalah, surat kabar) maupun elektronik (software, CD, internet, dll). Menulis sama-sama memiliki kakuatan yang dahsyat untuk mengubah pola pikir orang yang membacanya.

Dengan menulis, tak jarang juga bisa membuat penulis menjadi gila. Gila dalam artian bahwa menulis itu memerlukan ide, masalah dan tujuan. Orang bisa menjadi gila baca dan gila pengetahuan untuk mendapatkan inspirasi bagi tulisannya. Gila-gilaan mengasah imajinasi untuk menemukan ide-ide gila dan mengembangkan cerita pada tulisannya. Orang juga bisa segila mungkin menggali pengalaman individual dan sosial untuk menemukan masalah serta data-data pendukung tulisannya.

Memiliki semangat, kemauan dan strategi yang gila untuk menuangkan ide, merumuskan dan mencapai tujuan dari tulisannya. Serta menjadi gila kerja untuk menghasilkan karya yang luar biasa. Berkaitan dengan ini, ada sejumlah orang yang harus menulis terlebih dahulu agar ia bisa tertidur. Ini menunjukkan adanya koneksi antara kepuasan hati dengan ketenangan pikiran dengan mengekspresikan dorongan hasrat dan imajinya.

Manfaat lain dari menulis ialah kita bisa menghargai data dan waktu. Joel Saltzman dalam bukunya If You Can Speak You Can Write mengungkapkan bahwa menulis tidak berhenti pada langkah pertama. Artinya, menulis tidak cukup sekali dan sekali jadi, tetapi diperlukan upaya untuk menulis kembali. Penyuntingan, revisi, dan penulisan kembali merupakan langkah penting untuk menyempurnakan hasil tulisan. Seorang penulis perlu memeriksa kembali tulisannya secara kritis dan objektif mengenai berbagai hal, khususnya dalam ketepatan pemilihan kata, contoh, dan ilustrasi, serta menghindari kesalahan dalan penyusunan kalimat. Ini menunjukkan bahwa waktu sangat berharga untuk dimanfaatkan bagi seorang penulis dan menulis membutuhkan waktu apalagi untuk menghasilkan tulisan yang memiliki kekuatan.

Penghargaan atas waktu berpengaruh positif terhadap kestabilan dan kesehatan mental sang penulis. Orang yang menghargai waktu merupakan orang yang mampu dan mau memanfaatkan waktu sesempit apa pun untuk kebermaknaan hidup, sehingga dengan sendirinya akan membangun mentalitas dan pola pikirnya.

Maka, selain untuk memanfaatkan waktu dengan baik, untuk menuangkan ide dan mengisi kekosongan, menulis merupakan tidakan terbaik yang akan membuat kita bisa menciptakan sebuah tulisan yang bermanfaat untuk orang lain.[p]