Gemerlap Bintang (1)

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

“Sinta, kamu sms Wina cepet, dia gimana sih? Gak bisa masuk sekolah setidaknya dititipin dong makalahnya.”
“Yah,pulsa ku hahis, Bin.”
“Hah? Kan baru seminggu yang lalu kamu beli pulsa!”
“Habis gimana, Bin… kalau aku gak ngirim sms, bisa-bisa minggu depan aku gak akan lihat Dirly lagi. Apalagi kemarin dia ada di urutan terbawah.” ungkap Sinta.
“Kenapa harus bela-belain ngabisin uang buat Dirly? Seseorang yang tidak dikenal.”
“Dirly itu paling oke Bin. Dia cakep, keren dan cocok buat jadi juara Indonesia idol.” ucap Sinta dengan penuh keyakinan.
“Tapi, pulsa seratus ribu habis dalam seminggu? Lagian suaranya juga gak bagus-bagus amat, Ta.” kataku pada Sinta.
“Suara Dirly juga lumayan kok menurutku.” Elak Sinta.
“Aduh, susah deh kalau berdebat soal Dirly sama Sinta!” gumamku dalam hati.

Saat malam tiba, Kerlap-kerlip bintang yang genit menambah semarak langit. Aku sering tergoda untuk bertanya pada bintang-bintang di langit. Apakah mereka tidak merasa tersaingi oleh manusia? Mungkin manusia ingin berbuat hal yang sama untuk bumi, sehingga bumi dan langit sama gemerlapnya. Mungkin oleh sebab itulah, banyak manusia yang ingin menjelma menjadi bintang.
“Bintang, ke sini cepat! Kita lagi rapat penting. Belajarnya ditunda dulu bisa, kan?” panggil mas Anton mengejutkanku.
“Rapat apa si mas?” tanyaku penasaran.
Ayah, Ibu, Mbak Mala dan mas Anton malah senyum-senyum misterius.
“Kok malah pada senyum-senyum kayak gitu?” tanyaku tambah penasaran.
“Kita akan membahas…,” jawab Ayah.
“BKI…!” lanjut Ibu, Mbak Mala, Mas Anton hampir bersamaan.
“BKI? Maksudnya, Bubur Kacang Ijo?”
“Ya ampun Bintang, kok bubur kacang ijo? Ya bukanlah, tapi Bintang Keluarga Indonesia.” kata Mbk Mala menjelaskan.
“Owh, acara itu.” Ucapku sambil mangut-mangut tanda mengerti.
Hem, lagi-lagi ajang pencari bakat. gumamku dalam hati.
“Iya Bin, ini ajang pencarian bakat tapi, bukan cuma satu orang yang mendapat kesempatan untuk menjadi bintang, melainkan seluruh anggota keluarga. Syaratnya, setiap anggota keluarga harus memiliki bakat tertentu dan tentu saja harus kompak.” jelas Mas Anton dengan semangat.
“Ayah ini dulunya bintang olahraga lho. Renang, sepak bola, voli. Wah pokoknya Ayah kalian ini jagonya!” tukas Ayah dengan semangat.
“ Kamu tahu sendiri kan Bin, Mas Anton jagonya main gitar. Anak band gitu lho!” kata Mas Anton memuji kemampuannya sendiri.
Aku hanya tersenyum melihat Ayah dan Mas Anton membanggakan bakatnya masing-masing.
“Kamu setuju kan kalo Ibu jago masak, Bin?” tanya Ibu dengan yakin pada ku.
“Iya bu, masakan ibu paling enak sedunia, hehe…” jawabku sambil mengangkat kedua ibu jariku tanda membenarkan pernyataan Ibu.
“Kalau Mbak Mala bakatnya apa ya? Hehe… kayaknya kalau Mbk Mala sih, paling jago habisin masakan Ibu, hahaa…” godaku pada Mbak Mala sembari tertawa.
“Hah, kamu kali dek yang jagonya ngabisin masakannya Ibu.” elak Mbak Mala.
“Sudah-sudah, kalian berdua dari dulu selalu saja tidak pernah akur,” tegur Ayah kepadaku dan Mbak Mala.
“Mala kamu kan bisa bernyanyi. Lagi pula akhir-akhir ini ikut ekskul nyanyi di kampus kan?” tanya Ayah pada Mbak Mala.
“Nah, sekarang tinggal Bintang. Kamu lebih serius ke tari tradisional ya Bin?” pinta Mas Anton.
“Iya, Ibu setuju.” Sahut Ibu.
“Pokoknya kita sekeluarga berusaha untuk jadi bintang!”
“Ketik: BKI spasi keluarga Prayoga!” canda Mas Anton.
Kami sekeluarga pun tertawa mendengarnya.
“Ya sudah lanjutin belajarnya lagi Bin,” ucap Ibu.
“Jangan lupa belajar nari juga,” kata Mbak Mala mengingatkan.
“Apa Mbak? Masa malem-malem belajar nari, kurang kerjaan banget si…” ucapku pada Mbak Mala.
“Iya dek, Mbak kan cuma bercanda,” sahut Mbk Mala. Bersambung.

2 tanggapan untuk “Gemerlap Bintang (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *