Penantian Tak Berujung (1)

Kau ketuk lagi pintu itu. Pintu yang telah mencampakkanmu. Namun kau tak peduli. Kau buang rasa malu dan harga dirimu. Demi melihat perutmu yang kian membesar. Tujuh bulan. Tanpa lelah, di tiap malam kau datangi lagi rumah itu. Biar caci yang dia tamparkan ke wajah mu. Kau tak peduli. Demi melihat janin yang tumbuh dalam rahim mu.

“Sudahlah, Ris.” Kataku,
“Mau sampai kapan kau akan mengetuk pintu itu? Kau harusnya malu. Mana harga dirimu.”

Dia hanya diam. Tak hiraukan kataku. Dia ketuk lagi pintu itu. Pintu yang didalamnya tinggal laki-laki yang sangat dicintainya, yang kini mencampakkannya.
“Ayo, Ris. Pulanglah….” Bujukku sekali lagi.

Belum selesai aku bicara, terbukalah pintu itu. Keluarlah laki-laki gagah yang sejak tadi dinantinya.
“Mas… .”
“Mau apa kamu ke sini?!” bentak laki-laki itu,
“Kenapa kau selalu mengganggu hidupku. Pergi kau dari sini.”
Didorongnya Risma dan dibantinglah pintu itu. Pintu itu tertutup. Lagi.

Risma terisak. Sambil di gedornya pintu itu.
“Mas, kandunganku sudah tujuh bulan. Ini anak kita, Mas.”
“Ris, ayo pergi dari sini. Tidak kah kau malu mengemis pada laki-laki bajingan macam dia itu’” bujukku.
Risma masih terisak. Terus berusaha memanggil laki-laki itu. Namun, sekeras apapun ia berusaha, tak ada yang mengindahkannya. Malam semakin larut, tanpa kata dia beranjak dari depan pintu itu. Aku mengikutinya.
***
Risma adalah gadis yang penuh semangat. Seakan dia punya cadangan semangat didalam sakunya. Yang siap mengisi, bahkan sebelum semangatnya sempat redup. Dia adalah seorang gadis penjaga kios buku tempat aku berlangganan. Dia seumuran denganku. Namun dia kurang beruntung. Selepas SMA dia tak bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Menjaga kios buku merupakan pilihannya. Dengan ini, dia bisa melampiaskan semangat belajarnya yang masih sangat kuat. Dia bisa dengan leluasa membaca buku di sana. Aku kagum dengan semangatnya.

Kami berteman baik. Setiap aku ke kios bukunya, dia selalu bertanya apa saja yang aku alami di kampus. Ada berita apa. Bahkan kabar dosen pun ia tanyakan. Terkadang aku sedikit kualahan menjawab pertanyaannya.
“Gimana kuliahmu tadi?”
“Eh, Bu ini tadi masuk nggak?”
“Kemarin aku baca di Koran, kampusmu menang olimpiade, ya ? Wah…keren.”
Dan sederet pertanyaan lain.

Suatu ketika datanglah seorang laki-laki membeli buku di kiosnya. Sesosok lelaki yang konon menjadi lelaki idaman Risma. Yang kadang membuatku iri kalau dia menceritakan lelaki itu kepadaku. Cemburukah aku ? Hem… mungkin.
Sejak pertemuan pertama mereka itu, laki-laki itu sering berkunjung ke kios Risma. Tak jarang mereka pergi jalan berdua. Hanya sekedar untuk menghirup udara malam kota Jogja.
Hubungan mereka semakin dekat. Sampai suatu saat dimana Risma mendapati dirinya tengah hamil. Aku pun syok ketika Risma menceritakan hal itu. Kecewa. Tak kukira akan sejauh itu hubungan mereka.

Tanpa sepengetahuanku, didatanginya laki-laki itu.
“Kau hamil?!” laki-laki itu terkejut,
“Jangan ngomong macam-macam kau ini.”
“Itu tidak mungkin. Kau pasti sudah tidur dengan laki-laki lain. Pergi kau dari sini. Jangan pernah datang lagi kemari.”

Itulah hari pertama pintu itu tertutup untuk Risma. Hari pertama pula senyum berkhianat padanya. Dan entah kemana larinya semangat yang selalu ia jaga. Dan hari dimana aku sadar, bahwa sesungguhnya aku mencintaimu, Risma. Bersambung.