Tiga Aspek Prioritas Rektor UST

Drs. H. Pardimin, M.Pd. di depan rektorat UST Jl. Kusumanegara No. 157.Foto: Wayahdi/PENDAPA

Seorang Rektor merupakan ‘ujung tombak’ dari sebuah Perguruan Tinggi. Terpilihnya rektor baru pada 7 Juni 2011, tentu UST (Universitas Sarjanwiyata Tamansiswa) menaruh harapan besar akan adanya perubahan yang lebih baik dari sosok  Drs. H. Pardimin, M. Pd. Melalui visi dan misi yang diusungnya, beliau yakin akan membenahi UST. Berikut wawancara singkat Tim Pendapa di kediaman beliau, Rabu (29/7).

Sebagai rektor baru periode 2011/2015, program kerja apa yang akan Bapak lakukan?
Program kerja saya ada tiga, antara lain bidang akademik, bidang keuangan dan administrasi, serta bidang umum. Dalam bidang akademik meliputi peningkatan status akreditasi program studi (prodi) yang masih di bawah standar. Minimal akreditasi harus B, hal tersebut disebabkan banyak izin operasional prodi yang sudah habis. Besok Agustus ada 8-10 program studi yang sudah akan habis izin operasionalnya, jadi cukup berat. Itu yang termasuk mendesak.
Hal lain yang perlu dibenahi adalah sistem akademik. Contohnya, registrasi. Sekarang sudah tidak zamannya lagi orang berlama-lama antre untuk registrasi yang semestinya bisa dilakukan secara online. Selain itu, agar mahasiswa dapat mengakses informasi tentang kampusnya sendiri dengan mudah tanpa harus menghabiskan waktu. Sistem akademik lain yang perlu dibenahi juga yaitu masalah pemberian nilai. Terkadang ada dosen yang memberikan embel-embel plus (+) atau minus (-) tapi ada juga yang tidak. Hal tersebut disebabkan peraturan akademiknya masih lemah.
Selain itu, yang tidak dilupakan adalah masalah alumnus. Keorganisasian yang mengurusi alumni sudah sangat perlu untuk dibenahi. Masa yang menjadi ketua selama beberapa periode orang-orang itu saja. Jadi, itu harus diperbaiki juga. Kalau memang tidak mau? Ya harus dibekukan kemudian membentuk pengurus yang baru.
Selanjutnya, bagian keuangan dan administrasi. Saya akan membenahi sistem keuangan di kampus agar tidak terjadi kejadian seperti sebelumnya. Setelah itu akan saya pantau juga setiap pengeluarannya.
Yang terakhir ialah kesejahtaraan mahasiswa, karyawan, dan dosen. Saya akan mengusahakan agar para karyawan dan dosen di UST memperoleh upah yang layak. Kesejahteraan untuk mahasiswa itu bukan seperti membesarkan anggran organisasi kemahasiswaan. Semisal, tentang status akreditasi program studi. Jika program studinya C atau bahkan tidak terakreditasi, itu akan menyulitkan alumnus untuk mencari pekerjaan.

Apa program jangka panjang Bapak untuk UST?
Untuk program jangka panjangnya, mulai dari saya menjabat sebagai rektor hingga akhir periode akan saya usahakan semua prodi dapat memperolah akreditasi minimal B.

Bagaimana Bapak menanggapi aksi pada waktu Bapak dilantik?
Sebenarnya demo pada waktu itu bisa saya ‘meja hijau’ kan (masuk pengadilan). Karena apa? Fitnah. Demo boleh, tapi jangan tentang fitnah dan anarkis. Tapi kalau demonya mohon akreditasi minimal A, itu nggak apa-apa. Itu lebih bagus dan tidak fitnah. Misalnya, mohon kalau rektor tidak bisa menaikkan akreditasi yang C menjadi B, saya diberi waktu satu tahun, kalau tidak bisa harus turun! Nggak apa-apa hal seperti itu.
Kalau demo kemarin itu apa? Katanya saya melanggar Tri Pantangan (harta, tahta, dan wanita). Silakan dibuktikan! Melanggar keuangan, keuangan yang mana? Justru selama saya menjadi Dekan, saya bisa memasukkan uang milyaran rupiah. Sehingga saya bisa membangun gedung tiga lantai yang di kampus pusat (red; UST Jalan Kusumanegara No. 157) dan gedung FKIP yang bagian selatan (red; gedung B). Selain itu, saya juga mencari dana sampai keluar kota sebanyak 21 tempat. Saya itu menjabat Dekan selama dua periode (1997-2004). Kalau saya benar-benar melakukan sesuatu yang tidak baik, kenapa saya waktu itu malah terpilih menjadi Pembantu Rektor (2004/2008)? Kan nggak rasional to itu?

Menanggapi hal seperti itu, tindakan apa yang akan Bapak lakukan?
Saya ini orang tua, kalau anak saya salah dan minta maaf, semua selesai. Tapi, saya menuntut, karena sudah terekspos. Anda minta maafnya harus di media. Fair to itu? Permintaan saya tidak berlebihan to? Anda sudah mencederai dua hal. Pertama, saya selaku pribadi dan keluarga besar saya. Kedua, Anda sudah mencederai UST. Tapi, kalu sudah meminta maaf dan sudah mengklarifikasi ke media, ya sudah, saya anggap selesai.

Untuk memajukan UST sendiri, langkah apa yang akan Bapak ambil?
Secara historis, UST ini sudah mempunyai modal. Nama Ki Hadjar Dewantara (KHD) dan Tamansiswa. Sampai sekarang, konsep Tut Wuri Handayani masih dipakai sebagai lambang pendidikan nasional. Hari lahir KHD masih diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sebenarnya, kita ini sudah memiliki modal yang sangat besar. Tinggal kita penerusnya ini, bisa nggak untuk meneruskan dan mengembangkan itu. Kalau ada yang berargumentasi lain, karena Tamansiswa tidak bisa mengonsep sesuatu hal yang lebih. Tamansiswa hanya bergerak dalam ranah pendidikan. Kesehatan tidak. Ekonomi pun tidak.

Kalau berkaitan dengan konsep dari KHD sendiri seperti apa?
Konsep KHD itu diaktualisasikan masih bisa. Bahkan sekarang ini muncul konsep-konsep baru di luar negeri yang sebenarnya itu sudah ditemukan oleh KHD. Kelemahan kita adalah ‘menggali butir-butir mutiara’ yang terpendam untuk kita aktualisasikan ke dalam perkembangan zaman modern seperti sekarang ini.
Salah satu konsep KHD yakni padepokan yang terdapat cantrik (murid laki-laki) dan mentrik (murid perempuan), atau murid seperti itu, seharusnya diasramakan. Sekarang yang memakai konsep asrama itu siapa? Malah pesantren. Padahal konsep awal itu adalah dari KHD. Nah, itu karena kita belum mengaktualisasikan. Mengapa lulusan-lulusan pondok pesantren jos (bagus)? Karena apa? Diasramakan. Seperti, Dr. Hidayat Nur Wahid dan Gus Dur, itu semua lulusan pesantren. Jangankan diasramakan, saya lihat begitu selesai kuliah semua buyar (pergi).

Bagaimana untuk membesarkan nama UST sendiri?


Caranya, ‘corong-corong’ yang efektif adalah mahasiswa dan alumnus maka ini nanti harus kita ‘gali’. Jadi, alumni itu jangan sampai tidak diberdayakan. Wadahnya ada, Ikatan Alumni Sarjanawiyata Tamansiswa (Ikasata). Kantornya ada, orangnya ada. Tapi, kegiatannya apa? Ra dong (tidak tahu)! Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, jangan hanya dibebankan kepada pimpinan saja.[p]